Definisi bekerja sambil liburan

Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Dari Mei 2014, kini sudah mendekati Mei 2015. Hampir setahun aku tinggal di Bali, dan mungkin akan genap setahun lebih beberapa hari sebelum akhirnya pergi. Sekarang sudah April 2015, tinggal sedikit lagi waktu yang tersisa di pulau ini—sebuah tempat di mana setiap hari terasa seperti liburan.

Meskipun aku datang ke sini untuk bekerja, tetap saja Bali punya caranya sendiri untuk membuat segalanya terasa lebih santai. Ada banyak tempat menarik yang bisa dikunjungi setiap sore atau saat akhir pekan tiba. Tidak heran kalau Bali sering disebut sebagai Tanah Para Dewa—keindahannya sungguh luar biasa. Dan aku tahu, semua ini akan sangat kurindukan nantinya.

Selama hampir setahun, begitu banyak pengalaman dan momen menyenangkan yang aku alami. Tidak hanya pengalaman dalam pekerjaan, tetapi juga dalam kehidupan sosial. Aku bertemu dengan banyak orang baru, beberapa di antaranya menjadi teman yang begitu menyenangkan. Benar adanya, di perantauan kita butuh teman yang baik. Mereka bukan sekadar teman untuk berbagi kebahagiaan, tapi juga tempat berbagi cerita di saat-saat sulit. Bersama mereka, semuanya terasa lebih ringan.

Semakin lama di Bali, semakin aku dibuat nyaman. Aku masih ingat, saat pertama kali datang, temanku pernah bertanya, “Gimana menurutmu Bali? Enak mana dibanding Surabaya?” Dan dengan santai aku menjawab, “Biasa aja, lebih enakan Surabaya.” Haha, tapi itu dulu—saat aku belum benar-benar merasakan Bali. Kini, setelah hampir setahun, aku bisa bilang kalau Bali dan Surabaya punya pesonanya masing-masing. Tidak ada keinginan untuk menetap di sini, tapi rasanya aku akan kembali lagi suatu saat nanti. Kalau sekarang liburan sambil bekerja, mungkin nanti liburan sambil honeymoon—InsyaAllah. 

Dulu, orang Bali mungkin tampak biasa saja bagiku. Sama seperti dulu aku melihat orang Jawa sebelum pertama kali datang ke Pulau Jawa. Tapi sekarang? Baik orang Bali maupun orang Jawa jadi begitu spesial di mataku. Bahkan, mungkin aku jatuh cinta pada budaya dan karakter orang Bali. Mereka punya keunikan tersendiri—wajah khas yang manis dan mudah dikenali, tutur bahasa yang unik, lembut, dan ramah.

Yang paling aku kagumi adalah bagaimana mereka begitu menjaga adat istiadat. Menjadi orang Bali bukan hanya soal identitas, tapi juga tentang tanggung jawab adat yang mereka jalani dengan penuh totalitas. Hampir setiap hari ada kegiatan adat yang mereka jalani, dan mereka melakukannya dengan sepenuh hati. Seakan-akan modernitas yang datang dari luar tak mampu menggerus tradisi mereka.

Selama di Bali, aku juga sempat merasakan dua peristiwa besar yang berbeda budaya: bulan Ramadhan 2014 dan Hari Nyepi 2015 yang baru berlangsung sebulan lalu, tepatnya Maret. Rasanya luar biasa bisa mengalami langsung bagaimana dua tradisi yang berbeda bisa tetap hidup berdampingan di pulau ini.

Setahun mungkin bukan waktu yang lama, tapi cukup untuk memberiku begitu banyak pengalaman berharga. Dan kini, saat waktunya pulang semakin dekat, aku mulai mempersiapkan oleh-oleh untuk keluarga dan teman-teman di Pulau Sabang, Aceh. Tenang saja, tabungan hampir cukup. 

Komentar