A COMPASS TO FULFILLMENT, beneran kompas yang sangat berguna bagiku
“A Compass to Fulfillment” adalah judul sebuah buku yang baru saja selesai aku baca. Sebagai seseorang yang bisa dibilang sangat malas membaca, berhasil menyelesaikan buku setebal 190 halaman dalam sebulan adalah pencapaian yang luar biasa bagiku. Apalagi, belakangan ini mood-ku sedang baik, dan akhirnya keinginan untuk membeli buku yang sudah lama tertunda bisa terwujud di awal bulan kemarin.
Sebenarnya, ada alasan kenapa aku malas membaca buku. Selain karena memang membaca bukan hobiku, kehadiran internet dengan akses informasi yang begitu mudah membuatku merasa tidak perlu lagi membeli buku fisik, tapi ini memang pola pikirku saja yang tidak terbiasa atau suka membaca (poor me). Selama ini, satu-satunya jenis buku yang pernah berhasil aku tamatkan adalah novel. Selebihnya? Hampir tidak ada.
Alasan lainnya, aku selalu merasa kurang cocok dengan buku-buku motivasi. Bagi sebagian orang, buku-buku semacam itu bisa menginspirasi. Tapi buatku, banyak di antaranya yang terasa seperti “mendikte” cara hidup seseorang. Aku lebih suka memahami kehidupan berdasarkan pengalaman pribadi atau dari kisah nyata orang-orang di sekitarku, bukan sekadar teori atau nasihat yang terdengar seperti aturan baku.
Namun, ketika awal bulan kemarin aku mampir ke Gramedia, entah kenapa aku tertarik untuk membeli buku “A Compass to Fulfillment” tanpa banyak pertimbangan. Dan ternyata, dari halaman pertama saja aku langsung merasa klik dengan isinya. Buku ini ditulis oleh Kazuo Inamori, seorang pengusaha terkenal asal Jepang sekaligus pendiri Kyocera Corporation dan KDDI Corporation. Tidak hanya sukses di dunia bisnis, ia juga dikenal sebagai seorang filsuf yang menerapkan prinsip-prinsip spiritual dalam kepemimpinan dan kehidupan.
Buku ini bukan sekadar kumpulan teori motivasi, melainkan refleksi dari perjalanan hidup Kazuo Inamori sendiri. Yang membuatku tertarik adalah bagaimana ia menyampaikan gagasannya dengan cara yang sederhana, ringan, dan mudah dipahami. Tidak terasa seperti sebuah “ceramah”, melainkan lebih seperti cerita yang dekat dengan realitas kehidupan.
Dalam buku ini, Inamori menjelaskan bagaimana menemukan makna dalam pekerjaan dan kehidupan dengan membangun filosofi yang kuat. Ia berbicara tentang konsep “altruisme”—bagaimana bekerja dengan niat yang benar, bukan hanya demi uang, tetapi untuk memberi manfaat bagi orang lain. Ia juga menekankan bahwa kebahagiaan sejati datang dari menjalani kehidupan dengan penuh dedikasi dan nilai-nilai yang bermakna.
Saat membaca buku ini, rasanya seperti mendapatkan penyegaran kembali tentang hal-hal yang selama ini aku yakini dalam hidup. Tanpa terasa, aku menyelesaikannya hingga halaman terakhir. Ternyata, tidak semua buku motivasi terasa seperti “ceramah kaku”—beberapa justru bisa memberikan perspektif yang lebih luas tentang kehidupan.
Jadi, terima kasih yang sebesar-besarnya untuk Kazuo Inamori atas buku yang luar biasa ini!

Komentar
Posting Komentar