Kita telah berubah


Entah apakah mata saya yang semakin terbuka melihat dunia, ataukah memang perubahan selalu setia mengikuti langkah manusia.

Perubahan yang saya maksud bukan hanya tentang bertambahnya usia atau kematangan fisik, tetapi lebih dalam dari itu—perilaku, sikap, dan karakter seseorang.

Sering kali saya melihat ketidakseimbangan dalam perubahan yang terjadi pada orang-orang di sekitar saya. Umur mereka bertambah, tetapi arah perkembangan perilaku dan karakter mereka tidak selalu sejalan. Jika usia mereka saya ilustrasikan sebagai garis lurus ke depan, maka perilaku dan cara berpikir mereka bisa berbelok-belok, dengan jalur yang sulit diprediksi. Beberapa mungkin sudah jauh di depan, ada yang berjalan beriringan, dan ada juga yang tampaknya justru tertinggal di belakang.

Salah satu contoh nyata yang saya alami adalah dengan teman-teman lama. Ada masa ketika kami begitu akrab, hingga sekecil apa pun kebiasaan mereka bisa saya mengerti. Namun, setelah beberapa tahun tidak bertemu, saya berpikir bahwa mereka pasti telah berkembang—menjadi versi yang lebih baik dari diri mereka yang dulu. Sayangnya, harapan itu sering kali tak sesuai kenyataan. Beberapa memang berkembang pesat, tetapi tak sedikit yang tampak berjalan ke arah yang jauh dari ekspektasi saya.

Saya menyadari bahwa lingkungan adalah faktor utama yang membentuk seseorang. Namun, menurut saya, jika seseorang tetap menggunakan logika dengan baik, perubahan lingkungan seharusnya tidak serta-merta mengubah arah kepribadiannya. Ia tetap berada di jalur yang sama, hanya saja mungkin kecepatan menuju versi terbaik dari dirinya yang berbeda—ada yang lebih cepat, ada yang lebih lambat. Kecuali, jika ada faktor emosional yang begitu kuat yang ikut memengaruhi perjalanannya.

Di sisi lain, saya pun sadar bahwa pola pikir manusia itu relatif. Apa yang saya anggap benar bisa jadi salah di mata orang lain, dan sebaliknya. Bahkan, mungkin tulisan ini pun akan diterjemahkan dengan makna yang berbeda oleh setiap orang yang membacanya.

Yang saya rasakan saat ini adalah kesulitan dalam menyesuaikan diri dengan beberapa teman lama. Dahulu, kami merasa begitu nyambung, obrolan mengalir begitu saja tanpa hambatan. Tapi kini, ada jarak yang terasa. Mungkin saya yang terlalu egois menginginkan mereka tetap sama seperti dulu, atau mungkin ada faktor lain yang membuat hubungan ini terasa berbeda.

Namun, di atas semua itu, saya sadar bahwa perubahan adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari. Yang terpenting bukanlah mempertahankan semuanya seperti dulu, tetapi bagaimana kita tetap bisa saling mendukung meskipun telah berkembang ke arah yang berbeda. Lagipula, ada juga teman-teman yang meski telah lama tak bertemu dan terpisah oleh jarak, tetap terasa klop seperti dahulu.

Pada akhirnya, mungkin bukan soal siapa yang berubah, tetapi lebih pada bagaimana kita menyikapi perubahan itu sendiri.


image source:www.funpop.com

Komentar